
Kuliah terkadang menjadi masa yang menyebalkan dikarenakan tugas yang banyak dan rumit. Di masa itu, tentu kita sebagai civitas akademis mempunyai rencana atau gambaran umum tentang apa yang akan kita lakukan setelah lulus dari institusi. Apa pernah kita berpikir bahwa apa yang selama ini direncanakan saat masih kuliah ternyata tidak realistis dengan kehidupan kita. Terkadang banyak yang membuat itu menjadi kenyatan, namun banyak orang yang tidak dapat mewujudkan. Fenomena ‘apa yang tidak diusahakan orang lain adalah sesuatu sangat kita inginkan’ memang terjadi dan sering dijumpai. Impian kita selama kuliah, ternyata tak bisa dicapai semudah apa yang kita bayangkan.
Tapi di sisi lain kita yang sudah lulus dari perkuliahan dengan title sarjana punya idealisme tidak ingin bekerja di kantor perusahaan karena nampak membosankan dan melelahkan, selepas kuliah ingin berwirausaha tapi tidak ada modal, dan pilihan terakhir, ingin melanjutkan S2 tapi mahal dan mendapatkan beasiswa itu butuh perjuangan .
Seandainya memutuskan untuk tidak melakukan apapun, terkadang kita malu dengan orang sekitar. Sementara hidup terus berjalan, dan kita akan tetap realistis mengatakan butuh uang untuk menjalani kehidupan. Akhirnya, banyak dari kita yang memutuskan untuk mengerjakan apa pun yang bisa dikerjakan.
Tapi tetap itu semua tak sama dengan keinginan hati, lalu kita mulai meragukan diri kita sendiri, bahwa apapun yang dilakukan sia-sia tanpa hasil dan tidak berguna. Jadi tak heran kalau banyak orang yang depresi, panik, banyak yang merasa ketakutan dan khawatir dengan masa depan.
Lalu yang lebih parahnya kita juga mengalami kebingungan tentang apa yang kita ingin lakukan, dan entah mengapa, orang-orang di sekitar kita (orang tua, saudara, tetangga) tiba-tiba saja jadi begitu berisik dan menganggu dengan nasihat mereka atau dengan omongan mereka.
Pastinya akan sedikit menyedihkan harus mengikuti nasehat mereka yang berlawanan dengan apa yang sebenarnya hati kita inginkan. Seharusnya kita memutuskan sendiri apa yang ingin kita lakukan tapi malah hidup dengan berpedoman nasehat orang lain. Karena keputusan kita pasti menentukan segalanya ke depannya, kalau kita putuskan berdasarkan pilihan orang lain, akan membuat kita hidup dalam bayang-bayang orang lain.
Dan satu-satunya nasihat yang kita tahu dalam memutuskan kehidupan setelah lulus kuliah hanya “FOLLOW YOUR PASSION” dan “IKUTIN KEAHLIAN YANG KALIAN MILIKI” yang masalahnya… banyak dari kita yang tidak merasa memiliki passion atau punya keahlian spesifik dalam bidang tertentu.
Bagi mereka yang sudah tahu passion dan keahlian mereka setelah lulus kuliah, itu adalah hal yang sangat berarti itupun terkadang mereka masih mempertanyakan apakah apa yang mereka lakukan adalah hal yang sangat mereka inginkan atau hanya bagian dari doktrin yang ditananamkan orang lain sehingga menjadi bagian hidup mereka. Dan kalaupun sudah tahu passion mereka apakah passion itu dapat menjamin mereka ke depannya? Atau sudah sesuai dengan peluang dunia kerja professional saat ini?
Jadi apa yang harus kita lakukan setelah mengetahui bahwa semua tak semudah dibayangkan?
Satu-satunya yang bisa kita lakukan sebagai orang orang yang sudah lulus kuliah adalah saling menguatkan. Teruntuk orang yang sudah kerja jangan suka memprovokasi dan pamer-pamer karena itu malah membuat orang lain semakin insecure dan mengalami krisis kepercayaan diri. Dan tentu membuat sakit hati.
Allah berfirman dalam Q.S Al Baqarah: 264
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ
Referensi: https://tafsirweb.com/1030-quran-surat-al-baqarah-ayat-264.html
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khaththab, beliau mengatakan,
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ
“Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal shalih) untuk pagelaran agung (pada hari kiamat kelak)” [HR. Tirmidzi].
Yang harus diingat adalah jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Ini fase normal yang dilewati semua orang. Jangan terburu-buru dan merasa terbebani dengan tuntutan untuk sukses di usia muda. Sukses itu butuh perjuangan, jatuh bangun, harus gagal agar dapat belajar, dan harus memperbanyak mencari pengalaman. Karena setiap orang memiliki waktu mereka sendiri, yang tentunya ini berbeda dari satu orang dengan orang lain.
Allah berfirman dalam Q.S Al Baqarah: 216
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Allah juga berfirman dalam Q.S An-Nisa’: 19
فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
Dalam Q.S At Taubah: 51
قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ
Referensi: https://tafsirweb.com/3067-quran-surat-at-taubah-ayat-51.html
Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”.
Ibrahim bin Adham pernah menanyakan 3 hal kepada seorang pemuda yang galau
“Wahai anak muda, bolehkan aku bertanya tiga hal padamu, tapi tolong jawab dengan jujur.”
“Baiklah, Wahai Imam, akan aku jawab pertanyaanmu dengan jujur,”
Ibrahim bin Adham duduk di dekatnya. Setelah menghela nafas panjang, dia bertanya, “Apakah ada suatu perkara yang terjadi di dunia ini yang luput dari pengetahuan dan kehendak Allah Swt ?”
“Tentu tidak ada,” jawab pemuda itu.
“Apakah rejeki yang Allah tetapkan kepadamu akan berkurang?”
“Pasti tidaklah berkurang,” jawab pemuda itu lagi.
“Apakah waktu kematian yang ditetapkan Allah kepadamu akan bergeser dan tertunda ?”
“Sungguh, tidak akan bergeser dan tertunda,” jawabnya.
“Lantas, kenapa kamu masih cemas, apa yang kau khawatirkan?” tanya Ibrahim bin Adham.
Sebagai umat muslim yang baik kita percaya bahwa segala sesuatu memang datang dari Allah. Hal terbaik yang dilakukan dalam keadaan ini adalah bertawakkal kepada Allah Ta’ala seperti mayat yang dimandikan, dia tidak ada gerakan dan rencana. Kalaupun takdir dan ketetapan Allah terasa sempit itupun takdir Allah karena segala sesuatu sudah ditetapkan ukurannya. Namun, walau kita dituntut untuk tawakkal jangan pernah meninggalkan usaha.
Sahal bin Abdillah berkata tawakkal itu adalah karunia Allah Ta’ala (احول) untuk Nabi SAW sedangkan usaha adalah sunnahnya maka siapa yang sudah sampai pada maqom ini (tawakkal) jangan pernah meninggalkan sunnah.
Allah berfirman dalam Q.S. At Talaq: 3
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Tak ada satupun yang terjadi di dunia itu tanpa sepengetahuan Allah. Setidaknya jangan menyerah dan berusaha sesuai kemampuan kita. Apakah hasil sesuai dengan ekspetasi atau tidakpun bukan menjadi tolak ukur.
Allahu A’lam





