Posted in ASWAJA, BAHASA

Teknologi dan Islam

Teknologi selalu menjadi bagian penting dalam lingkungan pengajaran dan s akhir akhir ini. Itu menjadi bagian penting dalam profesi keguruan karena mereka dapat menggunakannya untuk memfasilitasi pembelajar. Karena teknologi sudah menjadi bagian dalam hidup kita sehari-hari, ini adalah waktu yang cocok untuk mempertimbangkan idea tau gagasan untuk menaplikasikan teknologi dalam kurikulum pengajaran untuk mendukung proses pembelajaran di kelas.tipe pembelajaran sudah berubah, kelas traditional yang menjadikan guru sebagai pusat pembelajaran sudah terlihat ketinggalan jaman, metode ini sudah berakhir sekitar t akhir tahun 1960.

(Bala. N, Prasad. 2013. Communicative Language Teaching in 21st Century ESL Classroom. Annamarcharya Institute of Technology and Sciences: RAJAMPET-Kadapa District)

Dengan teknologi, pembelajar dapat mengatur proses pembelajaran mereka sendiri dan mempunyai akses penuh terhadap informasi dimana guru tidak dapat mengotrolnya. Berarti ini memiliki peran penting dalam mengembangkan aktivitas untuk siswa dan memiliki efek yang signifikan pada metode pengajaran, sayangnya tidak semua orang setuu dengan pendapat itu.

Mereka masih memiliki persepsi yang berbeda ketika menggunakan teknologi dalam metode Bahasa Inggris. Persepsi mempunyai hubungan erat dengan evaluasi sesuatu. Persepsi dapat menjadi proses dari penginterpretasian terhadap informasi orang lain. Ini tergantung pada informasi latar belakangnya. Persepsi mungkin di sokong diantara keduanya pengalaman sekarang dan yang lampau. Sebagai Muslim yang baik, siswa seharusnya memiliki pendapat dan pemikiran yang baik tentang sesuatu secara positif. Mempunyai persepsi yang baik ditujukan bagi siswa yang akan menghadapi dan mengalami media atau alat dalam dunia pendidikan.

Seperti yang diinterpretasikan dalam  Q.S Al-Baqarah: 216, Allah berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Referensi: https://tafsirweb.com/845-quran-surat-al-baqarah-ayat-216.html

Artinya: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Karena Islam adalah agama yang ‘rahmatan lil ‘alamiin’, Muslim seharusnya mempunyai sikap yang baik terhadap teknologi, termasuk aplikasi dan metode baru dalam pendidikan. Itu dipercaya dapat memotivasi siswa untuk belajar Bahasa Inggris secara mandiri. Apapun itu, ini penting untuk mempertimbangakan pentingnya motivasi untuk belajar dan mengaplikasikan pengetahuan baru seperti yang direkomendasikan dalam  Kitab Suci Al-Qur’an, Q.S Az Zumar: 9, Allah berfirman bahwa hanya orang yang paham yang akan ingat, karena orang yang akan melakukan sesuatu jika mereka memiliki motivasi,

أَمَّنْ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ ٱلْءَاخِرَةَ وَيَرْجُوا۟ رَحْمَةَ رَبِّهِۦ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

Referensi: https://tafsirweb.com/8671-quran-surat-az-zumar-ayat-9.html

Artinya: “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”

Allah juga berfirman dalam Q.S. Al Mujadalah: 11,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Referensi: https://tafsirweb.com/10765-quran-surat-al-mujadilah-ayat-11.html

Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Untuk mencapai itu akan lebih baik jika berusaha dengan giat untuk mencapai ambisi dan meningkatkan motivasi untuk mencapainya. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, Allah SWT tidak akan pernah mengubah nasib seorang hamba jika mereka tidak berusaha untuk mengubahnya, termasuk mengubah kualitas dalam pendidikan. Mereka juga seharusnya bekerja dengan keras, bekerjasama untuk membuat pekerjaan yang nampak berat menjadi lebih mudah.

Allah berfirman dalam  Q.S. Al Maidah: 2,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُحِلُّوا۟ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ وَلَا ٱلشَّهْرَ ٱلْحَرَامَ وَلَا ٱلْهَدْىَ وَلَا ٱلْقَلَٰٓئِدَ وَلَآ ءَآمِّينَ ٱلْبَيْتَ ٱلْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّن رَّبِّهِمْ وَرِضْوَٰنًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَٱصْطَادُوا۟ ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا۟ ۘ وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Referensi: https://tafsirweb.com/1886-quran-surat-al-maidah-ayat-2.html

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Allahu A’lam

Posted in ASWAJA, BAHASA

Perlukah Haji Berulang?

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin membagikan sebagian kegelisahan dan kekhawatiran saya terhadap kehidupan sosial masyarakat yang mungkin sudah menjadi fenomena sehari hari bahkan sudah mendarah daging dalam kehidupan sosial.  Terkadang kita tidak menyadari kesalahan dan kekeliruan kita dalam menentukan yang perlu diutamakan dengan hal atau perkara yang dapat ditunda demi kepentingan bersama. Kita terkadang melakukan hal baikditunjukkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala,  tapi masih mengutamakan hawa nafsu belaka. Jangan menyibukkan diri dengan perbuatan marjuh, dan menganggapnya sebagai amalan rajah dan jangan sibuk dengan perbuatan yang mafdhul dan melalaikan perbuatan yang fadhil.

Allah Ta’ala berfirman dalam Q. S Al-Hujuraat: 13,

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha mengenal”

عن ابى هريرة قال رسول اللة – صلى اللة علية و سلم.. ان الله لا ينظر الى صوركم و اموالكم و لكن ينظر الى قلوبكم و اغمالكم

Dalam sebuah riwayat, diriwayatkan dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Syahrin radhiyallahu’anhu, Rasululloh SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian” [HR. Muslim 2564]

Maka dalam Hadist Al-Arbain An-Nawawiyah dalam hadist pertama dituliskan,

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapat apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju” [Diriwayatkan dari dua orang ahli hadist: Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari dan Abu Husein Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairy An-Naisaburi, di dalam kedua kitab tershahih diantara semua kitab hadist] (1)

Dalam kutipan Qosidah Imam Abu Al Fath mengatakan bahwa: (2)

“……Karena engkau dianggap sebagai manusia itu dengan jiwa dan bukan dengan badan”

Kutipan dari Zuhair ibn Abi Salma dalam Mu’allaqat-nya: (3)

“Lidah seorang pemuda itu setengah harga dirinya, dan setengah lagi adalah hatinya. Jika keduanya tidak ada pada dirinya, maka dia tiada lain hanya segumpal daging dan darah.”

Dapat disimpulkan bahwa, Allah Ta’ala hanya melihat apa yang ada di dalam jiwa kita, menjadi budak badan dan hawa nafsu adalah hal yang sebaiknya dihindari karena bisa mengarah kepada menyekutukan Allah.

Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S Al-Furqaan:43,

Artinya: “Terangkanlah kepadaKu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”

Fenomena yang akan menjadi sorotan saya dalam tulisan ini. Ada satu hal yang ingin saya tegaskan bahwa tidak semua yang saya tuliskan terjadi pada orang yang sama. Ada sebagian orang yang memang menjadikan ibadah haji dan umrah bukan sebagai ajang untuk mendapat pengakuan. Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan berkata: “Berhaji lagi setelah haji yang wajib hukumnya mustahab (dianjurkan)”.  Namun hendaknya memperhatikan pengaturan yang dibuat pemerintah demi kemaslahatan jama’ah haji dalam hal kuota per negara. Banyak wadah-wadah untuk berbuat kebaikan selain haji maupun umrah yang bisa diikuti, dan terkadang pahalanya lebih besar daripada haji.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya ingin menegaskan bahwa sebaiknya biaya perjalanan ibadah haji bagi orang yang haji berulang atau lebih dari satu kali, lebih utama untuk disedekahkan untuk mewujudkan ibadah yang berdimensi sosial.  Anjuran ini sejalan dengan apa yang pernah disampaikan oleh KH. Ma’ruf Amin beberapa tahun lalu bahwa orang yang telah melaksanakan ibadah haji satu kali (haji wajib) berarti sudah terpenuhi kewajibannya. Mari kita melihat sekitar kita yang lebih membutuhkan, yang sebagian dari mereka mungkin terkadang tidak makan karena tak ada uang atau mereka yang harus bekerja keras demi kehidupannya tapi masih mengalami kekurangan. Atau mungkin dapat disalurkan untuk majelis-majelis ilmu, pembinaan kader atau mengembangkan organisasi keislamaan, menyantuni anak yatim, berinfak sebanyak-banyaknya atau membantu kegiatan sosial lainnya. Yang kegiatan kegiatan diatas tersebut pasti membutuhkan biaya banyak. Atau bisa jadi uang tersebut dapat digunakan untuk melawan ‘penyebaran agama lain‘ yang sedang terjadi di beberapa daerah atau dapat disumbangkan untuk membantu saudara kita di Palestina yang pasti membutuhkan banyak dana. Atau mungkin uang tersebut dapat diberikan untuk mereka yang berjuang melawan wabah akhir akhir ini.

Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S At-Taubah 19-21 tentang keutamaan perbuatan berjuang dengan perbuatan haji dan umrah

Artinya: “Apakah (orang-orang) yang member minum kepada orang orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kalian samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan, dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal.”

Karena keutamaan amalan manusia adalah mengutamakan amalan yang mempunyai banyak manfaat kepada orang lain. Manfaat besar yang dapat dirasakan orang lain, mempunyai keutamaan pahala yang besar di sisi Allah SWT. Perbuatan berjuang lebih baik daripada haji dan umrah. Manfaat ibadah haji hanya dirasakan oleh orang yang melaksanakan haji, sedangkan manfaat jihad dirasakan oleh semua orang. (4)

Maka ada satu riwayat yang terkanal, dari ‘Abdush Shomad bin Yazid Al Baghdadly, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Fudhoil bin’Iyadh berkata,

الامام فى الا صىرتها ما مستجابة دعوة لى ان لو

“Seandainya aku punya satu doa mustajab, aku akan tujukan doa tersebut untuk pemimpinku”, ada yang bertanya pada Imam Fudhoil “Kenapa bisa begitu?”, Imam Fudhoil menjawab, “Jika aku tujukan doaku pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku, namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negeri akan menjadi baik” [Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’im Al Ashfahaniy, 8:77, Darul Ihya’ At Turots Al ‘Iroqiy]

Allahu A’lam

Referensi:

(1) Imam An-Nawawi. 2005. Hadist Arbain An-Nawawiyah: Terjemah Bahasa Indonesia. Surabaya: AW Publisher

(2) Yusuf Al-Qaradhawi. 1996. Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jakarta: Robbani Press

(3) Ibid

(4) Yusuf Al-Qaradhawi. 2014. Fiqh Keutamaan. PTS Islamika:hal. 111

Posted in ASWAJA, BAHASA

Ridho VS Ikhlas

Setelah kemarin membahas sedikit mengenai penggunaan istilah ‘taubat’ dan ‘hijrah’. Kali ini, admin akan sedikit membahas istilah ‘ridho’ dan ‘ikhlas’ serta penggunaannya yang benar.

Terjadi ikhtilaf antar ulama tentang makna ridho, ada yang mengatakan bahwa ridho itu merupakan ‘pemberian’ (الاحوال) dari Allah Ta’ala. Ada yang mengatakan bahwa ridho itu ‘hasil usaha’ (المقامات). Namun, makna ridho bisa dikombinasikan bahwa, awal dari ridho itu adalah ‘hasil usaha’ kemudian puncak dari ridho adalah ‘pemberian Allah’

Syeikh Imam Abdul Karim bin Hawazin Al-Qusyairi dalam Kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyah dalam bab ridho (باب الرضا) mengatakan bahwa dia mendengar (الا ستاذ ابا على الدقاق) berkata bahwa ridho itu bukan engkau tidak merasakan ujian Allah, ridho itu engkau tidak menolak keputusan dan takdir Allah Ta’ala.

Sedangkah pengertian ikhlas dalam kitab ini,

(قال الا ستاذ) والاخلاص افراد ااحق سبحانه فى اطاعة بالقصد وهو ان يريد بطا عته التقرب الى الله سبحانه دون شىء اخر من تصنع لمخلوق او اكتساب محمدة عند الناس او محبة مدح من لخلق او معنى من المعانى سوى التقرب به الى الله تعالى

Ikhlas itu hanya Allah semata dalam ketaatan, ingin segala ibadah ditujukan kepada Allah tidak dibuat untuk menyenangkan makhluk, tidak ingin pula dipuji orang, atau ingin disanjung makhluk atau makna makna lain semua hanya dipakai untuk mendekatkan diri kepada Allah

يصح ان يقال الا خلاص التوقى عن ملاحظة الاشخاص وقد ورد خبر مسند، ان النبى صلى اللة عليه واله وسلم اخبر عن جبريل عليه السلام عن الله سبحانه وتعالى انه قال الاخلاص سر من سرى استودعته قلب من احببته من عبادى،

Ada pendapat mengatakan bahwa ikhlas itu menjaga hati dari pandangan orang, ada riwayat Nabi SAW bahwa Nabi SAW memberitahukan kepada Jibril a.s tentang Allah Ta’ala. Allah berfirman ikhlas itu rahasiaKu, Kuletakkan pada hati hamba yang kusayangi.

وقال الجنيد الاخلاص سر بين الله و بين العبد لا يعلمه فيكتبه و لا شيطان فيفسده و لا هوى فيميله

Imam Junaid berkata bahwa ikhlas itu antara Allah dan hambaNya tak diketahui malaikat atau tak diketahui setan atau tak diketahui hawa nafsu.

(Lebih lanjut dapat melihat video di akun Youtube resmi Ustadz H. Abdul Somad, Lc., D.E.S.A., Ph.D (Ustadz Abdul Somad Official) dalam Qiro’ah Ar-Risalah Al-Qusyairiyah)

Jadi, saat kita mendapat musibah atau cobaan seharusnya tidak menggunakan istilah ‘ikhlas menerima takdir Allah’ tapi ‘ridho menerima takdir dan ketentuan Allah’. Karena ridho bermakna menerima takdir dan ketentuan yang diberikan Allah Ta’ala, sedangkan ikhlas bermakna segala ibadah ditujukan kepada Allah Ta’ala bukan kepada yang lain. Allahu A’lam

Posted in ASWAJA, BAHASA

Taubat VS Hijrah

Ustadz H. Abdul Somad Lc., D.E.S.A., Ph.D membacakan Kitab Ar Risalah Al Qusyairiyah karangan Syeikh Imam Abdul Karim bin Hawazin Al Qusyairi dalam bab taubat tertulis bahwa Makna taubat dalama Bahasa Arab adalah “ruju’”. “Ia ruju’” berarti “Ia kembali”. Jadi taubat adalah kembali dari sesuatu yang dicela oleh syara’ menuju sesuatu yang dipuji olehnya. Rasulullah SAW, bersabda “Menyesali kesalahan merupakan suatu taubat.” (H.R. Bukhari dan Ahmad).
(Lebih lengkapnya lihat video Ustadz H. Abdul Somad Lc., D.E.S.A., Ph.D di akun resminya)

Istilah hijrah bagi mereka yang telah berubah, baik gaya hidup, cara berpakaian dan juga sikap yang mulai mempelajari agama, seringkali mereka menamainya dengan hijrah.

Hijrah biasanya diungkapkan sebagai suatu perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain atau dari suatu kondisi ke kondisi yang lain, seperti yang dilaksanakan pada masa Nabi, pindah dari Makkah ke Madinah karena adanya berbagai ancaman dari kafir Quraish.

Pindah dari sesuatu yang buruk ke sesuatu yang baik, perbuatan itu lebih dekat pemaknaannya kepada taubat. Secara istilah, taubat bermakna menyesali dosa dan meminta pengampunan dosa. Mengakui kesalahan lalu minta ampunan Allah, dilanjutkan dengan berbuat baik. Perpindahan kebiasaan itu seharusnya dinamai dengan taubat bukan hijrah. Allahu A’lam.

Ikuti akun sosial media UAS:
@ustadzabdulsomad_official
Youtube: Ustadz Abdul Somad Official
Fanspage Facebook: ustadzabdulsomad_official
Official merchandise: @uas_originalstore

Posted in ASWAJA, BAHASA

Takbir tak menafikkan Merdeka

Singkat namun bermakna keluar dari seorang pendakwah Indonesia Ustadz H. Abdul Somad Lc., D.E.S.A., Ph.d dalam salah ceramahnya. Bung Tomo juga melakukan hal yang sama pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya untuk membakar semangat melawan tentara Inggris dan NICA-Belanda, yang ingin kembali menduduki Tanah Air setelah kekalahan Jepang.

Lebih lanjut UAS mengatakan bahwa meneriakkan Takbir bukan berarti anti NKRI dan meneriakkan Merdeka bukan berarti atheis. Negara Indonesia adalah satu, walau berbeda agama tak satu akidah tetapi bersaudara. Manifestasi Resolusi Jihad adalah berjuang demi negara. Allohu A’lam

Ikuti akun sosial media UAS:
@ustadzabdulsomad_official
Youtube: Ustadz Abdul Somad Official
Fanspage Facebook: ustadzabdulsomad_official
Official merchandise: @uas_originalstore