‘Andai malam tanpa gulita…
Gelap tanpa hangatnya sang chandra…’

Pernahkah sedetik saja, aku terlintas di hati?
Pernahkah sehela saja, namaku tersebut?
Pernahkah sekejab saja, wajahku menghampiri imajinasi?
Pernahkah sepintas saja, ada terdoa tulusmu?
Sementara lihat aku!!!
Wajahmu selalu datang
Namamu senantiasa terucap
Wajahmu tak letih menghantui
Dan mulut tak lelah memanjat doa…..
Lihat dirimu!!!
Mataku tak lepas memandangmu
Melihat sejuknya hembusan di setiap ucapmu.
Menyaksikan setiap lembutnya lakumu
Kau jauh kini…
Bayangmu tak dapat di raba
Senyummu tak dapat di rasa
Wajahmu perlahan memudar dan menghilang
Memori tentangmu mulai menua
Lemah terkikis masa…
Saat ku pandang bulan di kala gulita
Hati berbisik kau memang tercipta fana
Sesaat pikirku pudar dan tersadar
Kau memang tercipta semu belaka

Pikirku sudah keliru…
Memendam lama entah berujung atau angan belaka
Berjuang dalam sepi seorang diri
Buntu rasa jalan, walau berliku keloknya
Kau hanya dekat dalam doa…
Jauh dalam nyata
Ingin, tak mampu memiliki
Berharap, tak sanggup mengklaim diri
Seperti pedang kepada sang satria
Yang tajam tak terhunus
Yang tumpul tak terpasah
Hanya seogok hiasan semata…
Kucoba melepas…
Namun terlanjur terikat
Kuingin menyerah
Hati tak hendak pasrah
Kupendam sesak itu sesaat…
Menunggu waktu berpihak pada senja
Yang menanti sinar rembulan
Memberikan warna pada sang gulita
Namun, tak kunjung mewarna jua
Kini….
Hanya ada aku dan sang gulita