Posted in ASWAJA, ENGLISH

Technology and Islam

Technology has always been an important part of teaching and learning environment lately. It is an essential part of the teachers’ profession through which they can use it to facilitate learners’ learning. With technology being part of our everyday lives, it is time to rethink the idea of integrating technology into the curriculum and aim to embed technology into teaching to support the learning process. The trends of teaching change, traditional class which usually teachers as centered of learning seem outdated, it approaches have finished about up to the late 1960s

(Bala. N, Prasad. 2013. Communicative Language Teaching in 21st Century ESL Classroom. Annamarcharya Institute of Technology and Sciences: RAJAMPET-Kadapa District)

Through using technology, learners can control their own learning process and have access to many information over which their teachers cannot control. Technology has an important role in promoting activities for learners and has a significant effect on teachers’ teaching methods, but not everybody agree with it.

They still have different perception when using new technology to integrate English method. Perception relates to the judge or evaluates something. Perception can be the process of interpreting the information about other people. It depends on some background information. It may be energized by both the present and past experience. As a good Muslim, students should have a good opinion and thinking something positively.

As it is interpreted in (Surah Al Baqarah, verse 216) that Muslims though dislike something, and it may be good to them and that they like something which is bad for them. Allah knows but you do not know. Having a good perception is purposed for students who will face and experience new media and tools in the education.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Fighting has been enjoined upon you while it is hateful to you. But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not.”

Since Islam was sent to be ‘rahmatan lil ‘alamiin’ Muslims should have positive attitudes dealing with technology, including to the new application and method in education.  It is believed can motivate to learn English language independently. Whatever, it is necessary to consider the importance of motivation to learn and apply new knowledge as recommended in the holy Qur’an.

The Surah Az Zumar: 9, The Great Lord (Allah) said that people who know are not equal with who know not. It is only men of understanding who will remember, because people are willing to do something if they have a motivation.

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Is one who is devoutly obedient during periods of the night, prostrating and standing [in prayer], fearing the Hereafter and hoping for the mercy of his Lord, [like one who does not]? Say, “Are those who know equal to those who do not know?” Only they will remember [who are] people of understanding.”

Moreover, in the second Surah related motivation (Surah Al Mujadalah: 11), The Lord (Allah) will exalt in degree those of people who believe, and those who have been granted knowledge.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Referensi: https://tafsirweb.com/10765-quran-surat-al-mujadilah-ayat-11.html

“O you who have believed, when you are told, “Space yourselves” in assemblies, then make space; Allah will make space for you. And when you are told, “Arise,” then arise; Allah will raise those who have believed among you and those who were given knowledge, by degrees. And Allah is Acquainted with what you do.”

To so doing, it is better if try very hard to achieve this ambition and apply motivation to reach it. As said before, The Al Mighty God ‘Allah S.W.T.’ will never change the Muslims fate unless they try hard to change themselves, including changing the quality of education. In addition, they should work hand in hand, cooperate together to make the hard work become easier (Al Maidah: 2).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“O you who have believed, do not violate the rites of Allah or [the sanctity of] the sacred month or [neglect the marking of] the sacrificial animals and garlanding [them] or [violate the safety of] those coming to the Sacred House seeking bounty from their Lord and [His] approval. But when you come out of ihram, then [you may] hunt. And do not let the hatred of a people for having obstructed you from al-Masjid al-Haram lead you to transgress. And cooperate in righteousness and piety, but do not cooperate in sin and aggression. And fear Allah; indeed, Allah is severe in penalty.”

Allah Almighty

Posted in ASWAJA, BAHASA

Teknologi dan Islam

Teknologi selalu menjadi bagian penting dalam lingkungan pengajaran dan s akhir akhir ini. Itu menjadi bagian penting dalam profesi keguruan karena mereka dapat menggunakannya untuk memfasilitasi pembelajar. Karena teknologi sudah menjadi bagian dalam hidup kita sehari-hari, ini adalah waktu yang cocok untuk mempertimbangkan idea tau gagasan untuk menaplikasikan teknologi dalam kurikulum pengajaran untuk mendukung proses pembelajaran di kelas.tipe pembelajaran sudah berubah, kelas traditional yang menjadikan guru sebagai pusat pembelajaran sudah terlihat ketinggalan jaman, metode ini sudah berakhir sekitar t akhir tahun 1960.

(Bala. N, Prasad. 2013. Communicative Language Teaching in 21st Century ESL Classroom. Annamarcharya Institute of Technology and Sciences: RAJAMPET-Kadapa District)

Dengan teknologi, pembelajar dapat mengatur proses pembelajaran mereka sendiri dan mempunyai akses penuh terhadap informasi dimana guru tidak dapat mengotrolnya. Berarti ini memiliki peran penting dalam mengembangkan aktivitas untuk siswa dan memiliki efek yang signifikan pada metode pengajaran, sayangnya tidak semua orang setuu dengan pendapat itu.

Mereka masih memiliki persepsi yang berbeda ketika menggunakan teknologi dalam metode Bahasa Inggris. Persepsi mempunyai hubungan erat dengan evaluasi sesuatu. Persepsi dapat menjadi proses dari penginterpretasian terhadap informasi orang lain. Ini tergantung pada informasi latar belakangnya. Persepsi mungkin di sokong diantara keduanya pengalaman sekarang dan yang lampau. Sebagai Muslim yang baik, siswa seharusnya memiliki pendapat dan pemikiran yang baik tentang sesuatu secara positif. Mempunyai persepsi yang baik ditujukan bagi siswa yang akan menghadapi dan mengalami media atau alat dalam dunia pendidikan.

Seperti yang diinterpretasikan dalam  Q.S Al-Baqarah: 216, Allah berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Referensi: https://tafsirweb.com/845-quran-surat-al-baqarah-ayat-216.html

Artinya: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Karena Islam adalah agama yang ‘rahmatan lil ‘alamiin’, Muslim seharusnya mempunyai sikap yang baik terhadap teknologi, termasuk aplikasi dan metode baru dalam pendidikan. Itu dipercaya dapat memotivasi siswa untuk belajar Bahasa Inggris secara mandiri. Apapun itu, ini penting untuk mempertimbangakan pentingnya motivasi untuk belajar dan mengaplikasikan pengetahuan baru seperti yang direkomendasikan dalam  Kitab Suci Al-Qur’an, Q.S Az Zumar: 9, Allah berfirman bahwa hanya orang yang paham yang akan ingat, karena orang yang akan melakukan sesuatu jika mereka memiliki motivasi,

أَمَّنْ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ ٱلْءَاخِرَةَ وَيَرْجُوا۟ رَحْمَةَ رَبِّهِۦ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

Referensi: https://tafsirweb.com/8671-quran-surat-az-zumar-ayat-9.html

Artinya: “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”

Allah juga berfirman dalam Q.S. Al Mujadalah: 11,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Referensi: https://tafsirweb.com/10765-quran-surat-al-mujadilah-ayat-11.html

Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Untuk mencapai itu akan lebih baik jika berusaha dengan giat untuk mencapai ambisi dan meningkatkan motivasi untuk mencapainya. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, Allah SWT tidak akan pernah mengubah nasib seorang hamba jika mereka tidak berusaha untuk mengubahnya, termasuk mengubah kualitas dalam pendidikan. Mereka juga seharusnya bekerja dengan keras, bekerjasama untuk membuat pekerjaan yang nampak berat menjadi lebih mudah.

Allah berfirman dalam  Q.S. Al Maidah: 2,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُحِلُّوا۟ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ وَلَا ٱلشَّهْرَ ٱلْحَرَامَ وَلَا ٱلْهَدْىَ وَلَا ٱلْقَلَٰٓئِدَ وَلَآ ءَآمِّينَ ٱلْبَيْتَ ٱلْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّن رَّبِّهِمْ وَرِضْوَٰنًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَٱصْطَادُوا۟ ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا۟ ۘ وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Referensi: https://tafsirweb.com/1886-quran-surat-al-maidah-ayat-2.html

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Allahu A’lam

Posted in ASWAJA, ENGLISH

Should us Do Hajj more than one?

On this case, I would like to share some of my anxieties and worries about the social life of the community which may have become a daily phenomenon even live in social life. Sometimes we do not realize our mistakes in determining what needs to be prioritized with things or cases that can be postponed for the social needs. We sometimes do good things shown as a form of worship to Allah Ta’ala, but still give priority to personal desire. Do not concern yourself with marjuh, and consider it as rajah and do not be busy with mafdhul actions and neglect fadhil actions.

Allah Ta’ala said in Q. S Al-Hujuraat: 13,

It means: “O people, indeed We created you from a man and a woman and made you nation and tribe so that you might know one another. Indeed, the most noble among you by Allah is the most pious among you. Surely Allah is All-Knowing,

عن ابى هريرة قال رسول اللة – صلى اللة علية و سلم .. ان الله لا ينظر الى صوركم و اموالكم و لكن ينظر الى قلوم

In a narration, narrated from Abu Hurairah Abdurrahman bin Syahrin radhiyallahu’anhu, Rasululloh SAW said, “Verily, Allah does not look at your body nor your appearance, but He looks at your heart” [HR. Muslim 2564]

So in the Al-Arbain An-Nawawiyah Hadith in the first hadith written,

From Amir Al-mu’minin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu‘ anhu, he said that he heard the Messenger of Allāh SWT ( Nabi SAW) said, “In fact every charity depends on its intention. Everyone will get what he intends. Who migrates because of Allah and His Messenger, then migrated because of Allah and His Messenger. Who migrates because he seeks the world or because of the woman he marries, then moves to the person he is going to “[Narrated from two hadith experts: Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari and Abu Husein Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairy An-Naisaburi, in the two most authentic books among all the books of hadith] (1)

In the quotation of Qosidah Imam Abu Al Fath said that: (2)

“…… Because you are considered as a human being with a soul and not a body.”

Quotation from Zuhair ibn Abi Salma in his Mu’allaqat: (3)

“A young man’s tongue is half his pride, and the other half is his heart. If neither of them is in him, then he is nothing but a lump of flesh and blood. “

It can be concluded that, Allah Ta’ala only sees what is in our souls, being a slave to the personal desire is something that should be avoided because it can lead to associating partners with Allah Ta’ala (syirik)

Allah Ta’ala said in Q.S Al-Furqaan: 43,

It means: “Explain to Me the person who made his desire as his Lord. Then can you be the guardian of it? “

The phenomenon that will be my focus in this paper. There is one thing I want to emphasize that not everything I write happens to the same person. There are some people not make the Hajj and Umrah to get recognition. Sheikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan said: “Hajj again after the Hajj which must be obligatory mustahab (recommended)”. But it should pay attention to the arrangements made by the government about the terms of quotas per country. Many good things besides Hajj and Umrah can be done, and sometimes the reward is greater than the Hajj.

Without reducing my respect, I want to emphasize that the cost of a Hajj for people who Hajj more than once, is important to be devoted to realizing a social dimension of worship. This suggestion is in line with what was conveyed by KH. Ma’ruf Amin a few years ago that a person who had done the Hajj once (the obligatory hajj) meant that his obligations had been fulfilled. Let’s look at those around us who are more in need, some of whom may sometimes not eat because there is no money or those who have to work hard for their lives but are still lacking. Or maybe it can be channeled to build an islamic organization, coaching cadres or developing its organizations, caring for orphans, giving as much as possible or helping other social activities. Those activities above certainly require a lot of costs. Or it could be that the money can be used against ‘other religion spre that is happening in some areas or it can be donated to help our brothers and sisters in Palestine who definitely need a lot of funds. Or maybe the money can be given to those who are fighting against Covid-19 lately.

Allah Ta’ala says in Q.S At-Taubah 19-21 about the virtues of struggling with Hajj and Umrah

It means: “Do those who drink to those who make the hajj and take care of the Grand Mosque (Masjidil Haram), you equate those who believe in Allah and the next day and strive in the way of Allah? They are not the same in the sight of Allah, and Allah does not guide the wrongdoers. Those who believe and emigrate and strive in the way of Allah with their possessions and themselves are higher in the sight of Allah, and that is the people who get the victory. Their Lord exhorts them by granting mercy from Him, His good pleasure, and heaven, they gain in them eternal pleasure. “

Because the virtue of human practice is to prioritize practices that have many benefits to others. The great benefits that can be felt by others, have the virtue of a great reward in the sight of Allah SWT. The act of fighting is better than Hajj and Umrah. The benefits of the Hajj are only felt by those who carry out the Hajj, while the benefits of jihad (strive in the way of Allah Ta’ala) are felt by everyone. (4)

So there is one narration related it, from ‘Abdush Shomad bin Yazid Al Baghdadly, he said that he had heard Fudhoil bin ‘Iyadh said,

الامام فى الا صىرتها ما مستجابة دعوة لى ان لو

“If I had one mustajab prayer, I would aim it for my leader”, someone asked Imam Fudhoil “Why is that?” if I aim for my leaders, the people and the country will be good ”[Hilyatul Auliya ‘by Abu Nu’im Al Ashfahaniy, 8:77, Darul Ihya’ At Turots Al ‘Iroqiy]

Allahu A’lam

References:

(1) Imam An-Nawawi. 2005. Hadist Arbain An-Nawawiyah: Terjemah Bahasa Indonesia. Surabaya: AW Publisher

(2) Yusuf Al-Qaradhawi. 1996. Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jakarta: Robbani Press

(3) Ibid

(4) Yusuf Al-Qaradhawi. 2014. Fiqh Keutamaan. PTS Islamika:hal. 111

Posted in ASWAJA, BAHASA

Perlukah Haji Berulang?

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin membagikan sebagian kegelisahan dan kekhawatiran saya terhadap kehidupan sosial masyarakat yang mungkin sudah menjadi fenomena sehari hari bahkan sudah mendarah daging dalam kehidupan sosial.  Terkadang kita tidak menyadari kesalahan dan kekeliruan kita dalam menentukan yang perlu diutamakan dengan hal atau perkara yang dapat ditunda demi kepentingan bersama. Kita terkadang melakukan hal baikditunjukkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala,  tapi masih mengutamakan hawa nafsu belaka. Jangan menyibukkan diri dengan perbuatan marjuh, dan menganggapnya sebagai amalan rajah dan jangan sibuk dengan perbuatan yang mafdhul dan melalaikan perbuatan yang fadhil.

Allah Ta’ala berfirman dalam Q. S Al-Hujuraat: 13,

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha mengenal”

عن ابى هريرة قال رسول اللة – صلى اللة علية و سلم.. ان الله لا ينظر الى صوركم و اموالكم و لكن ينظر الى قلوبكم و اغمالكم

Dalam sebuah riwayat, diriwayatkan dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Syahrin radhiyallahu’anhu, Rasululloh SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian” [HR. Muslim 2564]

Maka dalam Hadist Al-Arbain An-Nawawiyah dalam hadist pertama dituliskan,

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapat apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju” [Diriwayatkan dari dua orang ahli hadist: Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari dan Abu Husein Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairy An-Naisaburi, di dalam kedua kitab tershahih diantara semua kitab hadist] (1)

Dalam kutipan Qosidah Imam Abu Al Fath mengatakan bahwa: (2)

“……Karena engkau dianggap sebagai manusia itu dengan jiwa dan bukan dengan badan”

Kutipan dari Zuhair ibn Abi Salma dalam Mu’allaqat-nya: (3)

“Lidah seorang pemuda itu setengah harga dirinya, dan setengah lagi adalah hatinya. Jika keduanya tidak ada pada dirinya, maka dia tiada lain hanya segumpal daging dan darah.”

Dapat disimpulkan bahwa, Allah Ta’ala hanya melihat apa yang ada di dalam jiwa kita, menjadi budak badan dan hawa nafsu adalah hal yang sebaiknya dihindari karena bisa mengarah kepada menyekutukan Allah.

Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S Al-Furqaan:43,

Artinya: “Terangkanlah kepadaKu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”

Fenomena yang akan menjadi sorotan saya dalam tulisan ini. Ada satu hal yang ingin saya tegaskan bahwa tidak semua yang saya tuliskan terjadi pada orang yang sama. Ada sebagian orang yang memang menjadikan ibadah haji dan umrah bukan sebagai ajang untuk mendapat pengakuan. Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan berkata: “Berhaji lagi setelah haji yang wajib hukumnya mustahab (dianjurkan)”.  Namun hendaknya memperhatikan pengaturan yang dibuat pemerintah demi kemaslahatan jama’ah haji dalam hal kuota per negara. Banyak wadah-wadah untuk berbuat kebaikan selain haji maupun umrah yang bisa diikuti, dan terkadang pahalanya lebih besar daripada haji.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya ingin menegaskan bahwa sebaiknya biaya perjalanan ibadah haji bagi orang yang haji berulang atau lebih dari satu kali, lebih utama untuk disedekahkan untuk mewujudkan ibadah yang berdimensi sosial.  Anjuran ini sejalan dengan apa yang pernah disampaikan oleh KH. Ma’ruf Amin beberapa tahun lalu bahwa orang yang telah melaksanakan ibadah haji satu kali (haji wajib) berarti sudah terpenuhi kewajibannya. Mari kita melihat sekitar kita yang lebih membutuhkan, yang sebagian dari mereka mungkin terkadang tidak makan karena tak ada uang atau mereka yang harus bekerja keras demi kehidupannya tapi masih mengalami kekurangan. Atau mungkin dapat disalurkan untuk majelis-majelis ilmu, pembinaan kader atau mengembangkan organisasi keislamaan, menyantuni anak yatim, berinfak sebanyak-banyaknya atau membantu kegiatan sosial lainnya. Yang kegiatan kegiatan diatas tersebut pasti membutuhkan biaya banyak. Atau bisa jadi uang tersebut dapat digunakan untuk melawan ‘penyebaran agama lain‘ yang sedang terjadi di beberapa daerah atau dapat disumbangkan untuk membantu saudara kita di Palestina yang pasti membutuhkan banyak dana. Atau mungkin uang tersebut dapat diberikan untuk mereka yang berjuang melawan wabah akhir akhir ini.

Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S At-Taubah 19-21 tentang keutamaan perbuatan berjuang dengan perbuatan haji dan umrah

Artinya: “Apakah (orang-orang) yang member minum kepada orang orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kalian samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan, dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal.”

Karena keutamaan amalan manusia adalah mengutamakan amalan yang mempunyai banyak manfaat kepada orang lain. Manfaat besar yang dapat dirasakan orang lain, mempunyai keutamaan pahala yang besar di sisi Allah SWT. Perbuatan berjuang lebih baik daripada haji dan umrah. Manfaat ibadah haji hanya dirasakan oleh orang yang melaksanakan haji, sedangkan manfaat jihad dirasakan oleh semua orang. (4)

Maka ada satu riwayat yang terkanal, dari ‘Abdush Shomad bin Yazid Al Baghdadly, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Fudhoil bin’Iyadh berkata,

الامام فى الا صىرتها ما مستجابة دعوة لى ان لو

“Seandainya aku punya satu doa mustajab, aku akan tujukan doa tersebut untuk pemimpinku”, ada yang bertanya pada Imam Fudhoil “Kenapa bisa begitu?”, Imam Fudhoil menjawab, “Jika aku tujukan doaku pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku, namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negeri akan menjadi baik” [Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’im Al Ashfahaniy, 8:77, Darul Ihya’ At Turots Al ‘Iroqiy]

Allahu A’lam

Referensi:

(1) Imam An-Nawawi. 2005. Hadist Arbain An-Nawawiyah: Terjemah Bahasa Indonesia. Surabaya: AW Publisher

(2) Yusuf Al-Qaradhawi. 1996. Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jakarta: Robbani Press

(3) Ibid

(4) Yusuf Al-Qaradhawi. 2014. Fiqh Keutamaan. PTS Islamika:hal. 111

Posted in ASWAJA, ENGLISH

Ridho (Please) VS Ikhlas (Sincere)

After discussed about the use of the terms ‘taubat‘ and ‘hijrah‘. This time, I will share a bit of the terms ‘ridho‘ and ‘ikhlas‘ and their appropriate use.

There was an ‘ikhtilaf’ (difference of opinion) between ulama about the meaning of the ‘ridho’, some said that the ‘ridho’ was a ‘gift’ (الاحوال) from Allah Ta’ala. Some say that ‘ridho’ is ‘the result of effort’ (المقامات). However, the meaning of the ‘ridho’ can be combined, the beginning of the ‘ridho’ is ‘the result of effort’ then the peak of the ‘ridho‘ is ‘the gift of Allah Ta’ala’

Shaykh Imam Abdul Karim bin Hawazin Al-Qusyairi in the Book of Ar-Risalah Al-Qusyairiyah in the chapter ridho (باب الرضا) said that he heard (الا ستاذ ابا على الدقاق) saying that the ridho did not mean you not feel the test given by Allah, it meant you not reject Allah Ta’ala’s decisions and destiny.

‘Ikhlas’ in this book,

(قال الا ستاذ) والاخلاص افراد ااحق سبحانه فى اطاعة بالقصد وهو ان يريد بطا عته التقرب الى الله سبحانه دون شىء اخر من تصنع لمخلوق او اكتساب محمدة عند الناس او محبة مدح من لخلق او معنى من المعانى سوى التقرب به الى الله تعالى

Ikhlas‘ is only Allah in obedience, wanting all worship aimed at Allah is not made to please creatures, do not want to be praised by people, or want to be praised by creatures or other meanings, all only used to be closer to Allah

يصح ان يقال الا خلاص التوقى عن ملاحظة الاشخاص وقد ورد خبر مسند, ان النبى صلى اللة عليه واله وسلم اخبر عن جبريل عليه السلام عن الله سبحانه وتعالى انه قال الاخلاص سر من سرى استودعته قلب من احببته من عبادى,

There is an opinion saying that ‘ikhlas‘ is guarding the hearts from people, there is a history of the Prophet SAW that the Prophet SAW told Gabriel a.s about Allah Ta’ala. Allah says ‘ikhlas‘ is My secret, I put it in the heart of My beloved servant.

وقال الجنيد الاخلاص سر بين الله و بين العبد لا يعلمه فيكتبه و لا شيطان فيفسده و لا هوى فيميله

Imam Junaid said that ‘ikhlas‘ is between Allah and His servants, unknown angels or unknown demons (satan) or unknown passions .

(You can further see the video on Ustadz H. Abdul Somad, Lc., D.E.S.A., Ph.D (Youtube: Ustadz Abdul Somad Official) in Qiro’ah Ar-Risalah Al-Qusyairiyah)

So, when we have disasters or trials or tests we should not use the term ‘ikhlas to accept Allah’s destiny’ but ‘ridho to accept Allah’s destiny and provisions’. Because ‘ridho‘ means accepting the destiny and provision given by Allah Ta’ala, while ‘ikhlas‘ means all worship is directed to Allah Ta’ala not to others. Allah Almighty

Posted in ASWAJA, BAHASA

Ridho VS Ikhlas

Setelah kemarin membahas sedikit mengenai penggunaan istilah ‘taubat’ dan ‘hijrah’. Kali ini, admin akan sedikit membahas istilah ‘ridho’ dan ‘ikhlas’ serta penggunaannya yang benar.

Terjadi ikhtilaf antar ulama tentang makna ridho, ada yang mengatakan bahwa ridho itu merupakan ‘pemberian’ (الاحوال) dari Allah Ta’ala. Ada yang mengatakan bahwa ridho itu ‘hasil usaha’ (المقامات). Namun, makna ridho bisa dikombinasikan bahwa, awal dari ridho itu adalah ‘hasil usaha’ kemudian puncak dari ridho adalah ‘pemberian Allah’

Syeikh Imam Abdul Karim bin Hawazin Al-Qusyairi dalam Kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyah dalam bab ridho (باب الرضا) mengatakan bahwa dia mendengar (الا ستاذ ابا على الدقاق) berkata bahwa ridho itu bukan engkau tidak merasakan ujian Allah, ridho itu engkau tidak menolak keputusan dan takdir Allah Ta’ala.

Sedangkah pengertian ikhlas dalam kitab ini,

(قال الا ستاذ) والاخلاص افراد ااحق سبحانه فى اطاعة بالقصد وهو ان يريد بطا عته التقرب الى الله سبحانه دون شىء اخر من تصنع لمخلوق او اكتساب محمدة عند الناس او محبة مدح من لخلق او معنى من المعانى سوى التقرب به الى الله تعالى

Ikhlas itu hanya Allah semata dalam ketaatan, ingin segala ibadah ditujukan kepada Allah tidak dibuat untuk menyenangkan makhluk, tidak ingin pula dipuji orang, atau ingin disanjung makhluk atau makna makna lain semua hanya dipakai untuk mendekatkan diri kepada Allah

يصح ان يقال الا خلاص التوقى عن ملاحظة الاشخاص وقد ورد خبر مسند، ان النبى صلى اللة عليه واله وسلم اخبر عن جبريل عليه السلام عن الله سبحانه وتعالى انه قال الاخلاص سر من سرى استودعته قلب من احببته من عبادى،

Ada pendapat mengatakan bahwa ikhlas itu menjaga hati dari pandangan orang, ada riwayat Nabi SAW bahwa Nabi SAW memberitahukan kepada Jibril a.s tentang Allah Ta’ala. Allah berfirman ikhlas itu rahasiaKu, Kuletakkan pada hati hamba yang kusayangi.

وقال الجنيد الاخلاص سر بين الله و بين العبد لا يعلمه فيكتبه و لا شيطان فيفسده و لا هوى فيميله

Imam Junaid berkata bahwa ikhlas itu antara Allah dan hambaNya tak diketahui malaikat atau tak diketahui setan atau tak diketahui hawa nafsu.

(Lebih lanjut dapat melihat video di akun Youtube resmi Ustadz H. Abdul Somad, Lc., D.E.S.A., Ph.D (Ustadz Abdul Somad Official) dalam Qiro’ah Ar-Risalah Al-Qusyairiyah)

Jadi, saat kita mendapat musibah atau cobaan seharusnya tidak menggunakan istilah ‘ikhlas menerima takdir Allah’ tapi ‘ridho menerima takdir dan ketentuan Allah’. Karena ridho bermakna menerima takdir dan ketentuan yang diberikan Allah Ta’ala, sedangkan ikhlas bermakna segala ibadah ditujukan kepada Allah Ta’ala bukan kepada yang lain. Allahu A’lam

Posted in ASWAJA, ENGLISH

Taubat VS Hijrah

Ustadz H. Abdul Somad Lc., D.E.S.A., Ph.D read the Book of Ar Risalah Al Qusyairiyah by Sheikh Imam Abdul Karim bin Hawazin Al Qusyairi, in the written ‘taubat’ chapter, that the meaning of ‘taubat’ in Arabic is “ruju’“. ” He ruju’ “means “He returned”. So ‘taubat’ is a return from something that is condemned by the shariah ‘to something that is praised by it (shariah). Rasulullah SAW, said “Regreting mistakes is a ‘taubat'” (H.R. Bukhari and Ahmad).
(For more details, see the video of Ustadz H. Abdul Somad Lc., D.E.S.A., Ph.D in his official account)

The term hijrah for those who have changed, both the lifestyle, how to dress (as shariah) and the attitudes, often call Hijrah.

Hijrah is usually expressed as a move from one place to another or from a condition to another condition, as was carried out by Prophet Muhammad SAW, moved from Mecca to Medina because of various threats from the Quraish.

Moving from something bad to something good, is closer to the meaning of ‘taubat’. In the terms of ‘taubat’ means to repent of sin and ask for forgiveness of sins. Acknowledging mistakes then asking Allah SWT for forgiveness, followed by doing good. Transfering of habits should be named by ‘taubat’ not ‘hijrah’. Allah Almighty

Follow UAS social media accounts:
@ustadzabdulsomad_official
Youtube: Ustadz Abdul Somad Official
Facebook Fanspage: ustadzabdulsomad_official
Official merchandise: @uas_originalstore

Posted in ASWAJA, BAHASA

Taubat VS Hijrah

Ustadz H. Abdul Somad Lc., D.E.S.A., Ph.D membacakan Kitab Ar Risalah Al Qusyairiyah karangan Syeikh Imam Abdul Karim bin Hawazin Al Qusyairi dalam bab taubat tertulis bahwa Makna taubat dalama Bahasa Arab adalah “ruju’”. “Ia ruju’” berarti “Ia kembali”. Jadi taubat adalah kembali dari sesuatu yang dicela oleh syara’ menuju sesuatu yang dipuji olehnya. Rasulullah SAW, bersabda “Menyesali kesalahan merupakan suatu taubat.” (H.R. Bukhari dan Ahmad).
(Lebih lengkapnya lihat video Ustadz H. Abdul Somad Lc., D.E.S.A., Ph.D di akun resminya)

Istilah hijrah bagi mereka yang telah berubah, baik gaya hidup, cara berpakaian dan juga sikap yang mulai mempelajari agama, seringkali mereka menamainya dengan hijrah.

Hijrah biasanya diungkapkan sebagai suatu perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain atau dari suatu kondisi ke kondisi yang lain, seperti yang dilaksanakan pada masa Nabi, pindah dari Makkah ke Madinah karena adanya berbagai ancaman dari kafir Quraish.

Pindah dari sesuatu yang buruk ke sesuatu yang baik, perbuatan itu lebih dekat pemaknaannya kepada taubat. Secara istilah, taubat bermakna menyesali dosa dan meminta pengampunan dosa. Mengakui kesalahan lalu minta ampunan Allah, dilanjutkan dengan berbuat baik. Perpindahan kebiasaan itu seharusnya dinamai dengan taubat bukan hijrah. Allahu A’lam.

Ikuti akun sosial media UAS:
@ustadzabdulsomad_official
Youtube: Ustadz Abdul Somad Official
Fanspage Facebook: ustadzabdulsomad_official
Official merchandise: @uas_originalstore

Posted in ASWAJA, ENGLISH

Takbir does not deny Merdeka

Short but meaningful out of an Indonesian preacher Ustadz H. Abdul Somad Lc., D.E.S.A., Ph.d in his lecture. Bung Tomo also did the same thing on November 10, 1945 in Surabaya to ignite enthusiasm against British and NICA-Dutch troops, who wanted to return to occupy the country after the Japanese defeat.
UAS further said that shouting Takbir does not mean anti-NKRI and shouting Merdeka does not mean atheists. The state of Indonesia is one, although different religions but are brothers. Manifestation of Jihad Resolution is to fight for the country. Allah Almighty

Follow UAS social media accounts:
@ustadzabdulsomad_official
Youtube: Ustadz Abdul Somad Official
Facebook Fanspage: ustadzabdulsomad_official
Official merchandise: @uas_originalstore

Posted in ASWAJA, BAHASA

Takbir tak menafikkan Merdeka

Singkat namun bermakna keluar dari seorang pendakwah Indonesia Ustadz H. Abdul Somad Lc., D.E.S.A., Ph.d dalam salah ceramahnya. Bung Tomo juga melakukan hal yang sama pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya untuk membakar semangat melawan tentara Inggris dan NICA-Belanda, yang ingin kembali menduduki Tanah Air setelah kekalahan Jepang.

Lebih lanjut UAS mengatakan bahwa meneriakkan Takbir bukan berarti anti NKRI dan meneriakkan Merdeka bukan berarti atheis. Negara Indonesia adalah satu, walau berbeda agama tak satu akidah tetapi bersaudara. Manifestasi Resolusi Jihad adalah berjuang demi negara. Allohu A’lam

Ikuti akun sosial media UAS:
@ustadzabdulsomad_official
Youtube: Ustadz Abdul Somad Official
Fanspage Facebook: ustadzabdulsomad_official
Official merchandise: @uas_originalstore