Posted in ASWAJA, ENGLISH

Should us Do Hajj more than one?

On this case, I would like to share some of my anxieties and worries about the social life of the community which may have become a daily phenomenon even live in social life. Sometimes we do not realize our mistakes in determining what needs to be prioritized with things or cases that can be postponed for the social needs. We sometimes do good things shown as a form of worship to Allah Ta’ala, but still give priority to personal desire. Do not concern yourself with marjuh, and consider it as rajah and do not be busy with mafdhul actions and neglect fadhil actions.

Allah Ta’ala said in Q. S Al-Hujuraat: 13,

It means: “O people, indeed We created you from a man and a woman and made you nation and tribe so that you might know one another. Indeed, the most noble among you by Allah is the most pious among you. Surely Allah is All-Knowing,

عن ابى هريرة قال رسول اللة – صلى اللة علية و سلم .. ان الله لا ينظر الى صوركم و اموالكم و لكن ينظر الى قلوم

In a narration, narrated from Abu Hurairah Abdurrahman bin Syahrin radhiyallahu’anhu, Rasululloh SAW said, “Verily, Allah does not look at your body nor your appearance, but He looks at your heart” [HR. Muslim 2564]

So in the Al-Arbain An-Nawawiyah Hadith in the first hadith written,

From Amir Al-mu’minin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu‘ anhu, he said that he heard the Messenger of Allāh SWT ( Nabi SAW) said, “In fact every charity depends on its intention. Everyone will get what he intends. Who migrates because of Allah and His Messenger, then migrated because of Allah and His Messenger. Who migrates because he seeks the world or because of the woman he marries, then moves to the person he is going to “[Narrated from two hadith experts: Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari and Abu Husein Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairy An-Naisaburi, in the two most authentic books among all the books of hadith] (1)

In the quotation of Qosidah Imam Abu Al Fath said that: (2)

“…… Because you are considered as a human being with a soul and not a body.”

Quotation from Zuhair ibn Abi Salma in his Mu’allaqat: (3)

“A young man’s tongue is half his pride, and the other half is his heart. If neither of them is in him, then he is nothing but a lump of flesh and blood. “

It can be concluded that, Allah Ta’ala only sees what is in our souls, being a slave to the personal desire is something that should be avoided because it can lead to associating partners with Allah Ta’ala (syirik)

Allah Ta’ala said in Q.S Al-Furqaan: 43,

It means: “Explain to Me the person who made his desire as his Lord. Then can you be the guardian of it? “

The phenomenon that will be my focus in this paper. There is one thing I want to emphasize that not everything I write happens to the same person. There are some people not make the Hajj and Umrah to get recognition. Sheikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan said: “Hajj again after the Hajj which must be obligatory mustahab (recommended)”. But it should pay attention to the arrangements made by the government about the terms of quotas per country. Many good things besides Hajj and Umrah can be done, and sometimes the reward is greater than the Hajj.

Without reducing my respect, I want to emphasize that the cost of a Hajj for people who Hajj more than once, is important to be devoted to realizing a social dimension of worship. This suggestion is in line with what was conveyed by KH. Ma’ruf Amin a few years ago that a person who had done the Hajj once (the obligatory hajj) meant that his obligations had been fulfilled. Let’s look at those around us who are more in need, some of whom may sometimes not eat because there is no money or those who have to work hard for their lives but are still lacking. Or maybe it can be channeled to build an islamic organization, coaching cadres or developing its organizations, caring for orphans, giving as much as possible or helping other social activities. Those activities above certainly require a lot of costs. Or it could be that the money can be used against ‘other religion spre that is happening in some areas or it can be donated to help our brothers and sisters in Palestine who definitely need a lot of funds. Or maybe the money can be given to those who are fighting against Covid-19 lately.

Allah Ta’ala says in Q.S At-Taubah 19-21 about the virtues of struggling with Hajj and Umrah

It means: “Do those who drink to those who make the hajj and take care of the Grand Mosque (Masjidil Haram), you equate those who believe in Allah and the next day and strive in the way of Allah? They are not the same in the sight of Allah, and Allah does not guide the wrongdoers. Those who believe and emigrate and strive in the way of Allah with their possessions and themselves are higher in the sight of Allah, and that is the people who get the victory. Their Lord exhorts them by granting mercy from Him, His good pleasure, and heaven, they gain in them eternal pleasure. “

Because the virtue of human practice is to prioritize practices that have many benefits to others. The great benefits that can be felt by others, have the virtue of a great reward in the sight of Allah SWT. The act of fighting is better than Hajj and Umrah. The benefits of the Hajj are only felt by those who carry out the Hajj, while the benefits of jihad (strive in the way of Allah Ta’ala) are felt by everyone. (4)

So there is one narration related it, from ‘Abdush Shomad bin Yazid Al Baghdadly, he said that he had heard Fudhoil bin ‘Iyadh said,

الامام فى الا صىرتها ما مستجابة دعوة لى ان لو

“If I had one mustajab prayer, I would aim it for my leader”, someone asked Imam Fudhoil “Why is that?” if I aim for my leaders, the people and the country will be good ”[Hilyatul Auliya ‘by Abu Nu’im Al Ashfahaniy, 8:77, Darul Ihya’ At Turots Al ‘Iroqiy]

Allahu A’lam

References:

(1) Imam An-Nawawi. 2005. Hadist Arbain An-Nawawiyah: Terjemah Bahasa Indonesia. Surabaya: AW Publisher

(2) Yusuf Al-Qaradhawi. 1996. Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jakarta: Robbani Press

(3) Ibid

(4) Yusuf Al-Qaradhawi. 2014. Fiqh Keutamaan. PTS Islamika:hal. 111

Posted in ASWAJA, BAHASA

Perlukah Haji Berulang?

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin membagikan sebagian kegelisahan dan kekhawatiran saya terhadap kehidupan sosial masyarakat yang mungkin sudah menjadi fenomena sehari hari bahkan sudah mendarah daging dalam kehidupan sosial.  Terkadang kita tidak menyadari kesalahan dan kekeliruan kita dalam menentukan yang perlu diutamakan dengan hal atau perkara yang dapat ditunda demi kepentingan bersama. Kita terkadang melakukan hal baikditunjukkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala,  tapi masih mengutamakan hawa nafsu belaka. Jangan menyibukkan diri dengan perbuatan marjuh, dan menganggapnya sebagai amalan rajah dan jangan sibuk dengan perbuatan yang mafdhul dan melalaikan perbuatan yang fadhil.

Allah Ta’ala berfirman dalam Q. S Al-Hujuraat: 13,

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha mengenal”

عن ابى هريرة قال رسول اللة – صلى اللة علية و سلم.. ان الله لا ينظر الى صوركم و اموالكم و لكن ينظر الى قلوبكم و اغمالكم

Dalam sebuah riwayat, diriwayatkan dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Syahrin radhiyallahu’anhu, Rasululloh SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian” [HR. Muslim 2564]

Maka dalam Hadist Al-Arbain An-Nawawiyah dalam hadist pertama dituliskan,

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapat apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju” [Diriwayatkan dari dua orang ahli hadist: Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari dan Abu Husein Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairy An-Naisaburi, di dalam kedua kitab tershahih diantara semua kitab hadist] (1)

Dalam kutipan Qosidah Imam Abu Al Fath mengatakan bahwa: (2)

“……Karena engkau dianggap sebagai manusia itu dengan jiwa dan bukan dengan badan”

Kutipan dari Zuhair ibn Abi Salma dalam Mu’allaqat-nya: (3)

“Lidah seorang pemuda itu setengah harga dirinya, dan setengah lagi adalah hatinya. Jika keduanya tidak ada pada dirinya, maka dia tiada lain hanya segumpal daging dan darah.”

Dapat disimpulkan bahwa, Allah Ta’ala hanya melihat apa yang ada di dalam jiwa kita, menjadi budak badan dan hawa nafsu adalah hal yang sebaiknya dihindari karena bisa mengarah kepada menyekutukan Allah.

Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S Al-Furqaan:43,

Artinya: “Terangkanlah kepadaKu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”

Fenomena yang akan menjadi sorotan saya dalam tulisan ini. Ada satu hal yang ingin saya tegaskan bahwa tidak semua yang saya tuliskan terjadi pada orang yang sama. Ada sebagian orang yang memang menjadikan ibadah haji dan umrah bukan sebagai ajang untuk mendapat pengakuan. Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan berkata: “Berhaji lagi setelah haji yang wajib hukumnya mustahab (dianjurkan)”.  Namun hendaknya memperhatikan pengaturan yang dibuat pemerintah demi kemaslahatan jama’ah haji dalam hal kuota per negara. Banyak wadah-wadah untuk berbuat kebaikan selain haji maupun umrah yang bisa diikuti, dan terkadang pahalanya lebih besar daripada haji.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya ingin menegaskan bahwa sebaiknya biaya perjalanan ibadah haji bagi orang yang haji berulang atau lebih dari satu kali, lebih utama untuk disedekahkan untuk mewujudkan ibadah yang berdimensi sosial.  Anjuran ini sejalan dengan apa yang pernah disampaikan oleh KH. Ma’ruf Amin beberapa tahun lalu bahwa orang yang telah melaksanakan ibadah haji satu kali (haji wajib) berarti sudah terpenuhi kewajibannya. Mari kita melihat sekitar kita yang lebih membutuhkan, yang sebagian dari mereka mungkin terkadang tidak makan karena tak ada uang atau mereka yang harus bekerja keras demi kehidupannya tapi masih mengalami kekurangan. Atau mungkin dapat disalurkan untuk majelis-majelis ilmu, pembinaan kader atau mengembangkan organisasi keislamaan, menyantuni anak yatim, berinfak sebanyak-banyaknya atau membantu kegiatan sosial lainnya. Yang kegiatan kegiatan diatas tersebut pasti membutuhkan biaya banyak. Atau bisa jadi uang tersebut dapat digunakan untuk melawan ‘penyebaran agama lain‘ yang sedang terjadi di beberapa daerah atau dapat disumbangkan untuk membantu saudara kita di Palestina yang pasti membutuhkan banyak dana. Atau mungkin uang tersebut dapat diberikan untuk mereka yang berjuang melawan wabah akhir akhir ini.

Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S At-Taubah 19-21 tentang keutamaan perbuatan berjuang dengan perbuatan haji dan umrah

Artinya: “Apakah (orang-orang) yang member minum kepada orang orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kalian samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan, dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal.”

Karena keutamaan amalan manusia adalah mengutamakan amalan yang mempunyai banyak manfaat kepada orang lain. Manfaat besar yang dapat dirasakan orang lain, mempunyai keutamaan pahala yang besar di sisi Allah SWT. Perbuatan berjuang lebih baik daripada haji dan umrah. Manfaat ibadah haji hanya dirasakan oleh orang yang melaksanakan haji, sedangkan manfaat jihad dirasakan oleh semua orang. (4)

Maka ada satu riwayat yang terkanal, dari ‘Abdush Shomad bin Yazid Al Baghdadly, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Fudhoil bin’Iyadh berkata,

الامام فى الا صىرتها ما مستجابة دعوة لى ان لو

“Seandainya aku punya satu doa mustajab, aku akan tujukan doa tersebut untuk pemimpinku”, ada yang bertanya pada Imam Fudhoil “Kenapa bisa begitu?”, Imam Fudhoil menjawab, “Jika aku tujukan doaku pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku, namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negeri akan menjadi baik” [Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’im Al Ashfahaniy, 8:77, Darul Ihya’ At Turots Al ‘Iroqiy]

Allahu A’lam

Referensi:

(1) Imam An-Nawawi. 2005. Hadist Arbain An-Nawawiyah: Terjemah Bahasa Indonesia. Surabaya: AW Publisher

(2) Yusuf Al-Qaradhawi. 1996. Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jakarta: Robbani Press

(3) Ibid

(4) Yusuf Al-Qaradhawi. 2014. Fiqh Keutamaan. PTS Islamika:hal. 111